Minggu, 21 Desember 2008

ANJURAN PUASA SUNAH

Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Puasa enam hari pada bulan Syawwal.
Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, seolah-olah ia berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim, al-Tirmidzi, Abu dawud, dll).
2. Puasa Nabi Daud.
Nabi saw. bersabda, “Shalat yang paling Allah sukai adalah Shalat Daud. Dan puasa yang paling Allah sukai adalah puasa Daud. Ia tidur setengah malam, bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Lalu, ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari.” (HR al-Bukhârî).
3. Puasa Hari Asyura dan Tasu’a (10 dan 9 Muharram).
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. ditanya, “Shalat apa yang paling baik sesudah salat wajib?” beliau menjawab, “Shalat di tengah malam.” Lalu beliau ditanya, “Puasa apa yang paling baik sesudah Ramadhan?” beliau menjawab, “Bulan Allah yang kalian sebut dengan Muharram.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).
Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Hari asyura sangat diagungkan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya.” Maka, Rasulullah saw. bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari tersebut.” (Muttafaq alaih).
Dalam riwayat lain rasulullah saw. bersabda, “Jika aku masih hdiup hingga tahun depan, aku akan berpuasa hari kesembilannya (pula).” (HR Ahmad dan Muslim).
4. Puasa hari Arafah (9 Dzul hijjjah) bagi yang tidak menunaikan haji.
Nabi saw. bersabda, “Puasa hari Arafah bisa menghapus dosa selama dua tahun, tahun lalu dan tahun yang akan datang. Sementara, puasa hari Asyura menghapus doosa tahun yang lewat.” (HR al-Jamaah kecuali Bukhari dan al-Tirmidzi).
5. Puasa pada bulan Sya’ban
Usamah bin Zaid berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada satu bulan seperti pada bulan Sya’ban.” Beliau menjawab, “Ia adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia. yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan saat amal diangkat menuju Tuhan, karena itu, aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR Abu Daud dan al-Nasai).
6. Berpuasa pada bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).
7. Puasa tiga hari pada setiap bulan qamariyah (13,14,15).
Abu Dzarr al-Ghifari berkata, “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk berpuasa dalam sebulan tiga kali: yaitu tanggal 13, 14, 15. Menurut beliau, ia seperti puasa setahun.” (HR al-Nasai).
8.Puasa Senin Kamis
Nabi saw. biasa melakukan puasa pada hari senin dan kamis. Maka, beliau ditanya tentang hal itu. Beliau menjawab, “Amal hamba dihamparkan pada hari senin dan kamis. Aku ingin amalku dihamparkan sementara aku dalam kondisi puasa.” (HR Abu Daud).Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.

Puasa Sunnah 6 hari Bulan Syawal

Sumber : Arsip Artikel - Millist DT

Berpuasa 6 hari pada bulan Syawwal setelah puasa wajib di bulan Ramadhan adalah merupakan puasa Sunnah Mustahabbah, bukan wajib. Namun puasa ini sangat disarankan kepada umat Muslim, karena kebaikan yang banyak yang ada padanya dan pahalanya yang amat besar. Barangsiapa berpuasa 6 hari pada bulan Syawwal (setelah berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan) akan dicatat baginya pahala seperti dia telah berpuasa selama satu tahun penuh, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih.

Abu Ayyuub (semoga Allah meridhoinya) meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata: "Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan kemudian meneruskannya dengan 6 hari pada bulan Syawwal, maka seolah-olah dia berpuasa sepanjang hidupnya." (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nisaa'i dan Ibn Maajah). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan hal ini kemudian beliau bersabda: "Barangsiapa berpuasa selama 6 hari setelah hari Raya Idhul Fitri berarti telah memenuhi tahun itu: (barangsiapa berbuat kebaikan [hasanah] akan mendapatkan 10 hasanah yang serupa dengannya)."
Berdasarkan riwayat yang lain: "Allah telah membuat untuk setiap kebaikan (hasanah) 10 kebaikan (hasanah) yang serupa, maka satu bulan berpuasa adalah sama dengan sepuluh bulan berpuasa, dan dilanjutkan dengan berpuasa 6 hari berarti telah memenuhi sepanjang tahun." (al-Nisaa'i dan Ibnu Maajah. Lihat juga Sahih al-Targhib wa'l-Tarhib, 1/421). Hal ini juga diriwayatkan oleh Ibn Khuzayman dengan kata-kata: "Berpuasa sebulan dalam bulan Ramadhan mendapatkan balasan 10 kali yang serupa, dan berpuasa selama 6 hari mendapatkan pahala bagaikan berpuasa selama 2 bulan, dan hal ini berarti berpuasa selama satu tahun penuh."
Madzab Hanbali dan Syafi'i menjelaskan bahwa puasa 6 hari pada bulan Syawwal setelah berpuasa Ramadhan membuatnya seolah-olah seseorang telah berpuasa selama satu tahun penuh, karena pelipatganda-an pahala berlaku pula terhadap puasa-puasa sunnah, karena setiap kebaikan (hasanah) di hitung sebagai 10 hasanah.
Hal lain yang menunjukkan pentingnya puasa 6 hari pada bulan Syawwal adalah bahwa puasa sunnah ini akan menutup kelemahan-kelemahan yang mungkin terjadi dalam puasa di bulan Ramadhan, karena tidak seorangpun yang terbebas dari kelemahan-kelemahan yang boleh jadi berpengaruh pada puasanya. Pada hari berbangkit, amalan-amalan sunnah akan diperhitungkan untuk mengejar kelemahan-kelemahan dalam amalan-amalan wajib, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Yang pertama kali akan dihisab pada hari berbangkit adalah Shalat. Robb kita, Yang Maha Mulia dan Maha Agung, akan berkata kepada malaikat-malaikat-Nya - meskipun Dia Maha Tahu - 'Periksalah sholat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah tidak.' Apabila sempurna, akan dicatat sebagai sempurna, dan apabila ada kekurangannya, Dia akan berfirman, 'Periksa dan lihatlah apakah hamba-Ku telah melakukan sholat-sholat sunnah.' Jika dia telah melakukan sholat-sholat sunnah, (Allah) akan berfirman, Sempurnakan amalan wajib hamba-Ku dengan amalan-amalan sunnahnya.' Kemudian semua amalannya akan dihitung dengan cara yang sama." (diriwayatkan oleh Abu dawud). Wallahu a'lam bishawab.
PS:*Tentu amatlah tidak pantas bagi kita untuk "berhitung" atas pahala yang Allah berikan terhadap amalan kita.... karena sesungguhnya Nikmat dan Karunia Allah yang turun kepada kita tiadalah terhitung banyaknya. Namun mudah-mudahan apa yang disampaikan di atas membuat kita berlomba-lomba untuk melakukan ibadah sunnah disamping mengerjakan yang wajib.
*Bagi ukhti....puasa sunnah hanya bisa dijalankan apabila yang wajib telah terpenuhi... maka marilah bergegas untuk "melunasi" hutang puasa apabila ada... sehingga Insya Allah masih mendapat kesempatan untuk memenuhi puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal ini.
Ya Ilahi............ terimalah kami
Ampunilah kami......... Astaghfirullah ... Ya Rabbi
Ya Ilahi ... tuntunlah kami Ya Hadi...
Sucikanlah hati kami dari riya', ujub, prasangka negatif dan segala kekotoran yang membelenggu hati kami, Ya Quddus ... Engkau Yang Maha Suci
Kami sadar bahwa hati kami penuh dengan kekotoran Ya Allah...
mana mungkin Engkau Yang Maha Suci kan menempati hati yang kotor ini ....
hati yang penuh khilaf, penuh dosa... hingga hati kami hitam...
hingga tiada lagi cahaya dari-Mu... hingga sirna hati ini dari rasa cinta pada-Mu...
rasa rindu pada-Mu ... Ya Ilahi...
Demi-Mu Ya Ghaffar, sungguh kami telah menzhalimi diri kami sendiri...
sudah terlalu banyak dosa yang kami lakukan dalam keadaan sadar... dosa yang kami lakukan dalam diam... dalam sendirian... dalam tidak sadar
Ya Rauf... alangkah malunya kami pada-Mu... kami melakukan dosa secara
terang-terang pada-Mu
Ya Bashir... sungguh Engkau menatap kami ketika kami meninggalkan-Mu
Engkau mengetahui hati ini yang berbisik dengan prasangka negatif, ujub, ria', takabur
dan banyak lagi kehinaan yang kami lakukan pada-Mu Ya Khabir...
Engkau tetap sayang dan cinta pada kami Ya Rahman Ya Rahim...
tidak pernah dalam sesaat Engkau halangi kami dari menghirup oksigen yang menghidupkan kami dengan izin-Mu...
Ya Hayyu... tidak pernah sedetikpun Engkau memerintahkan matahari untuk tidak terus menerangi kami
Ya Nur... hari demi hari terus berlalu Engkau degupkan jantung kami
Ya Rahim... Engkau alirkan darah kami Ya Lathif...
Ya Rahman... alangkah cintanya Engkau pada kami Ya Allah... alangkah sayangnya Engkau
pada kami... hamba-Mu yang hina... banyak berpaling dari-Mu
Ampuni kami Ya Rauf... jika selama ini hati kami tidak pernah terbit cinta
pada-Mu... hinanya kami
Ya Allah ... kami telah mencari cinta manusia yang kotor dan meninggalkan
cinta-Mu yang suci
Ya Wadud... Ya Ilahi... hati ini, jiwa ini, tubuh ini, perasaan ini, derap langkah ini, bicara ini
semuanya milik-Mu Ya Allah...
Sungguh hamba tidak layak untuk berbicara tentang-Mu... sedangkan lidah ini penuh dengan dusta, hati ini kosong dari-Mu
Ya Allah... namun... terima kasih Ya Allah... Engkau izinkan lidah kami yang kotor ini
untuk menyebut, memuja dan memuji nama-Mu, Yang Maha Indah...
Terima kasih Ya Allah... Engkau pilih kami untuk menerima iman, Islam dan ihsan
terima kasih Ya Allah... hamba-Mu yang dina hina ini... Engkau pilih untuk menyebarkan risalah-Mu Ya Allah...
sungguh kami hina, kami tidak pernah punya daya dan upaya untuk meneruskan perjuangan suci kekasih-Mu Muhammad SAW
Ya 'Alim... sampaikanlah salam rindu dan cinta kami pada Rasul kami, tuntunan kami,
Muhammad SAW... kami tidak pernah berjumpa dengannya
Ya Jami'... Ya Ilahi...
kami tidak pernah layak untuk syurga-Mu Ya Allah... bagaimana mungkin kami layak
memohon syurgamu... namun Ya Allah... kami tidak sanggup dengan siksaan neraka-Mu
Ya Muntaqim... kami tidak sangup jika kami tidak dipilih untuk berjumpa dengan-Mu
Ya Allah... ampunilah kami yang lemah ini... ampunilah kami
ampunilah ibu-bapak kami, keluarga kami, guru-guru kami, teman-teman kami
***
Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhan-Mu,
dengan penuh keridhaan pada-Nya, dan keridhaan-Nya pada-Mu...
maka masuklah kau pada hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku
***